JAKARTA Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menggerebek sebuah rumah yang diduga sebagai tempat penyimpanan bahan-bahan peledak di Kampung Warung Jambu, RT 03 RW 08, Desa Susukan, Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Di kampung ini juga, polisi membawa seorang pria bernama Arif Hidayat (31) yang diduga terlibat dengan kelompok teror yang menempati rumah tersebut. Penggerebekan berlangsung sekitar tujuh jam.Berikut ini kronologi yang dirangkum Kompas.com dari kesaksian Ketua RW 08, Deny Iskandar:Pukul 05.00 : Petugas kepolisian berpakaian preman mendatangi rumah Deny meminta agar Deny tidak bekerja karena polisi akan menggerebek rumah di desa itu.

Gambar Densus Gerebek Rumah di Bojong Gede

Informasi awal dari kepolisian yang diterima Deny, penggerebekan terkait kasus narkoba.Pukul 08.30 : Tim Densus tiba di desa. Sekitar 50 personel bersenjata lengkap dan dipimpin oleh Brigadir Jenderal (Pol) Idham Aziz. Warga di kavling depan rumah yang akan digerebek langsung dievakuasi. Radius evakuasi mencapai 50 meter.Pukul 09.00 : Tim Densus mulai masuk ke rumah terduga kelompok teroris yang menjadi target. Rumah itu terletak di sebuah kavling perumahan yang baru saja dibangun tahun 2011. Lokasinya sangat jauh dari keramaian kota. Di kavling mini ini ada enam rumah yang dibangun berjejer dan saling berhadapan. Rumah yang menjadi incaran tim Densus berada di tengah-tengah. Di sekitar rumah itu juga sudah terisi penghuni baru.Pukul 09.15 : Tim Densus menginterogasi pemilik rumah, yakni kakak beradik, Intan dan Iqbal. Mereka ditanya perihal penghuni rumah yang ditarget Densus. Intan langsung menyahut bahwa rumah itu dikontrak oleh Anwar sekitar enam bulan lalu.

Anwar tinggal bersama dua orang temannya yang tidak diketahui namanya. Anwar, disebut Intan, datang dibawa oleh Arif Hidayat (31) yang sudah lama menjadi penduduk di sana.Begitu mendengar nama Arif, polisi langsung bilang dia masuk dalam daftar yang ditemui di Beji. Saya enggak ngerti maksudnya apa, tapi polisi langsung gerak mau nangkap Arif, kata Deny.

Namun, Deny menolak. Deny menawarkan dirinya sendiri yang membawa pria itu ke polisi lantaran dirinya masih bersaudara jauh dengan Arif. Ketika itu, Arif sedang sakit gejala tifus dan sedang berbaring di rumah mertuanya yang tinggal tak jauh dari lokasi penggerebekan.Pukul 09.30 : Arif dibawa Deny ke aparat kepolisian. Di lokasi, Arif sempat diinterogasi singkat oleh polisi soal perkenalannya dengan Anwar. Arif mengaku mengenal pria itu di Depok. Anwar diketahui sering mengajak Arif untuk melakukan jihad, tetapi Arif selalu menolak.Pukul 09.35 : Deny diajak menjadi saksi penggerebekan di rumah yang sedang menjadi target Densus. Di dalam rumah 6 x 6 meter itu, Deny melihat ada berbagai macam baju jihad, sarung tangan karet, solder, baskom plastik besar, kabel, dan alat pengukur.

Deny mengaku agak aneh melihat rumah yang baru saja ditinggal penghuninya itu. Pasalnya, Deny sama sekali tidak melihat adanya kompor, gelas, kasur, ataupun perabotan lainnya untuk hidup sehari-hari. Hanya segulung tikar tipis terlihat ada di ruang tengah.Mereka kan mengakunya meracik bubur bayi, tapi alat-alatnya enggak ada, kompor enggak ada. Gelas sampai kasur juga enggak ada di rumah itu. Kayaknya, itu rumah hanya untuk singgah saja, tutur Deny.Pukul 11.30 : Tim Densus mulai meninggalkan lokasi dengan mengangkut beberapa kardus dari dalam rumah. Arif juga turut diboyong aparat kepolisian dan disebut-sebut akan diperiksa di Mapolresta Depok.Pukul 19.00 : Garis polisi masih melingkar di sisi rumah yang menjadi lokasi penggerebekan.

Sekitar lima orang aparat kepolisian juga berjaga-jaga di sekitar lokasi. Adapun penggerebekan ini diduga terkait dengan kasus ledakan yang berasal dari sebuah rumah Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Jalan Nusantara Raya, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (8/9/2012). Dalam peristiwa itu, seorang pria mengalami luka bakar serius di sekujur tubuhnya. Polisi menduga bahwa rumah itu dijadikan gudang persenjataan dan bahan peledak kelompok teror.